Nampaknya, siapa pun akan gemas melihat makhluk bulat berwarna putih yang satu ini: Chiikawa. Ia adalah karakter utama berperawakan hamster dalam serial Chiikawa karya Nagano.
Mula-mula, Chiikawa hadir sebagai web manga di platform X pada 2020, sebelum akhirnya diadaptasi menjadi anime. Sejak saat itu, popularitasnya pun meroket hingga ke luar Jepang, termasuk Indonesia. Terlebih penayangannya di berbagai platform streaming, seperti Netflix, hingga beberapa potongan adegan yang diunggah di media sosial, termasuk TikTok dan YouTube, membuat Chiikawa semakin dikenal luas. Bahkan, Chiikawa pun turut berkolaborasi dengan beberapa merek ternama—seperti Miniso dan Uniqlo—serta meluncurkan film layar lebar pertamanya berjudul Chiikawa the Movie: The Secret of Mermaid.
Film tersebut diadaptasi dari Siren Arc, alur cerita terpanjang dalam Chiikawa yang terbit sejak Maret hingga November 2023. Dalam arc tersebut, Chiikawa dan teman-temannya berpetualang ke sebuah pulau yang penuh dengan keajaiban, rahasia, sekaligus kekacauan.
Menariknya, pesona Chiikawa tidak hanya muncul dari tokoh utamanya. Selain Chiikawa, anime yang satu ini turut memperkenalkan tokoh lainnya yang tak kalah menggemaskan. Mulai dari Hachiware, kucing berponi biru yang ceria dan mampu berbicara layaknya manusia, hingga Usagi, kelinci berwarna kuning yang eksentrik dan sering berkomunikasi lewat seruan-seruan khasnya.
Karakter lainnya seperti Rakko, Shisa, Kurimanju, hingga Momonga pun turut mewarnai cerita dengan karakteristik dan kepribadiannya masing-masing. Tingkah laku mereka yang polos, konyol, dan menggemaskan membuat Chiikawa tampak seperti tontonan ringan yang menawarkan kisah persahabatan sehari-hari.
Akan tetapi, kesan itu hanya bertahan di permukaan. Di balik desain karakternya yang lucu, anime yang satu ini justru menceritakan kisah tokohnya yang kerap berputar di pekerjaan, mengejar sertifikasi, hingga menghadapi berbagai resiko demi bertahan hidup. Ironisnya, kehidupan semacam ini tidak sepenuhnya asing di dunia nyata, ketika tak sedikit orang harus menghadapi berbagai tuntutan dan tekanan di tengah ketidakpastian.
Lantas, mengapa makhluk-makhluk kecil yang menggemaskan ini harus terus bekerja? Benarkah dunia Chiikawa dapat dibaca sebagai cerminan kehidupan kelas pekerja di dunia nyata?
Ketika Nilai Diri Ditentukan Berdasarkan Keberhasilan
Dalam dunia Chiikawa, para tokohnya—utamanya Chiikawa dan Hachiware—harus belajar keras agar lulus sertifikasi. Sertifikasi yang mereka ikuti mungkin terdengar sepele, yakni sertifikasi mencabut rumput. Akan tetapi di balik kesederhanaannya, pekerjaan mencabut rumput tidak semudah yang dibayangkan.
Para peserta harus mampu mengidentifikasi berbagai jenis rumput, memahami cara mengendalikannya secara efektif, hingga bagaimana menghadapi rumput yang berbahaya. Meskipun tidak ada kewajiban untuk mengikuti sertifikasi, namun sertifikasi tersebut menjadi syarat penting jika ingin memperoleh pekerjaan dengan upah yang lebih baik.
Sebab, pekerjaan yang dilakukan karakter dalam dunia Chiikawa tidak terbatas pada satu jenis pekerjaan saja. Mereka melakukan berbagai tugas guna memenuhi kebutuhan hidup, salah satunya mencabut rumput.
Di salah satu episode, Chiikawa dan Hachiware belajar bersama sambil saling menyemangati. Mereka sama-sama berharap dapat lulus dan menerima sertifikat mencabut rumput pada hari yang sama.
Sayangnya, takdir berkata lain. Ternyata hanya Hachiware yang berhasil lolos dalam sekali percobaan. Sementara itu, Chiikawa harus menelan pil pahit karena tidak lolos. Bahkan setelah mencoba untuk kedua kalinya, hasil yang ia harapkan belum juga datang. Kegagalan Chiikawa pun menjadi lebih dari sekadar cerita tentang dirinya yang tidak lulus ujian.
Di balik kesedihan dan perjuangannya agar lolos sertifikasi, terdapat persoalan yang lebih kompleks di luar kemampuan yang memengaruhi lulus tidaknya ujian. Ada syarat, standar, dan mekanisme yang harus dipenuhi agar ia dapat meraih kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik.
Dengan ini, sertifikasi tidak hanya berperan untuk mengukur kemampuan, melainkan menjadi penentu keberhasilan dalam mendapatkan kesempatan kerja. Sekilas, kondisi tersebut mengingatkan kepada kehidupan kelas prekariat. Dalam artikel The Precariat, Guy Standing menjelaskan bahwa prekariat adalah kelompok pekerja yang hidup dalam kondisi serba tidak pasti dan minim jaminan.
Lebih lanjut, upaya tersebut tidak terbatas pada pekerjaan yang dibayar, melainkan juga mencakup berbagai aktivitas yang tidak diakui sebagai kerja, seperti belajar, mengikuti pelatihan atau sertifikasi, mencari lowongan pekerjaan, membangun jaringan, hingga mengisi berbagai formulir untuk keperluan administrasi.
Gambaran tersebut serupa dengan kehidupan Chiikawa dan teman-temannya. Mereka digambarkan tidak memiliki pekerjaan tetap, melainkan mengandalkan berbagai pekerjaan maupun aktivitas yang tersedia di lingkungan mereka guna memperoleh penghasilan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tempat tinggal mereka pun memprihatinkan. Hachiware, misalnya, tinggal di dalam sebuah gua yang nyaris tidak memiliki perabotan.
Meskipun Chiikawa tidak dapat serta merta dibaca sebagai representasi langsung dari kehidupan kelas prekariat, kondisi tersebut membuka ruang untuk membaca kehidupan tokohnya melalui perspektif prekariat, di mana mereka harus terus bekerja, mencari kesempatan lebih luas, dan beradaptasi dalam kehidupan yang tidak sepenuhnya memberikan jaring pengaman.
Dalam hal ini, sertifikasi mencabut rumput, walaupun sekilas terdengar konyol, tidak hanya berfungsi sebagai syarat administratif, tetapi menjadi mekanisme yang mengharuskan pekerja, terlebih bagi Chiikawa dan teman-temannya agar terus meningkatkan nilai dirinya supaya tetap mempunyai akses yang lebih luas terhadap kesempatan kerja dan penghasilan yang lebih baik.
Kebersamaan dan Kebahagiaan Kolektif Kelas Pekerja
Sebagai tokoh yang lolos sertifikasi, Hachiware menunjukkan bahwa perannya tidak sebatas sosok yang berhasil, melainkan teman seperjuangan Chiikawa dalam memperoleh pekerjaan. Setelah sesaat melihat nomor pesertanya tercantum dalam daftar peserta yang lolos, Hachiware sempat bahagia.
Keberhasilan tersebut menjadi hasil dari proses belajar dan persiapan ujian yang dilakukannya bersama Chiikawa dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi, perasaan itu segera ia pendam ketika melihat reaksi Chiikawa yang tidak menemukan nomor pesertanya di dalam daftar. Chiikawa pun dinyatakan gagal dalam ujian yang telah mereka persiapkan bersama.
Kemudian, saat Chiikawa memilih menyendiri untuk mencoba menerima kegagalannya, Hachiware sebenarnya ingin sekali menghiburnya. Akan tetapi, ia memilih untuk tetap menghormati ruang yang dibutuhkan Chiikawa, sembari tetap memberikan dukungan agar ia tidak kehilangan semangat untuk mencoba kembali.
Keberhasilan Hachiware tidak membuatnya lupa bahwa kekecewaan yang dirasakan Chiikawa valid dan masih harus ia hadapi dengan caranya sendiri. Yang menarik dari adegan ini bukanlah siapa yang lebih pintar atau lebih layak lulus. Setiap proses belajar, berlatih, hingga mengikuti sertifikasi bersama telah membangun empati dan solidaritas yang kuat di antara keduanya.
Kebersamaan mereka pun tidak berhenti dari saling mendukung dan menyemangati dalam mengikuti ujian sertifikasi. Hampir di setiap episodenya, Chiikawa, Hachiware, dan Usagi juga harus menghadapi berbagai pekerjaan yang penuh risiko, seperti berhadapan dengan monster berbahaya hingga menyelamatkan karakter lain dari ancaman tersebut.
Contohnya, dalam salah satu episode, Chiikawa dan Hachiware bertemu dengan tiga bintang kuning bernama Nagareboshi yang ditawan di sebuah restoran. Naasnya di waktu yang sama, baik Chiikawa dan Hachiware hampir menjadi seekor makhluk hijau yang menyamar sebagai pemilik restoran berbintang tiga.
Berbagai peristiwa ini menunjukkan bahwa kehidupan mereka jauh dari rasa aman. Ancaman-ancaman tersebut dapat dibaca sebagai simbol ketidakpastian yang terus membayangi kehidupan para tokohnya.
Di sisi lain, hal yang menarik dari Chiikawa juga terlihat ketika ia dan teman-temannya hampir selalu menemukan kebahagiaan melalui hal-hal yang sangat sederhana, yakni makan bersama. Dalam berbagai episodenya, mereka beberapa kali menemukan makanan berukuran raksasa—mulai dari omurice hingga puding karamel—yang kemudian mereka nikmati bersama. Hidangan raksasa tersebut kerap muncul usai mereka menghadapi pekerjaan maupun situasi yang berbahaya. Misalnya, setelah Chiikawa dan Hachiware berhasil menyelamatkan Nagareboshi, mereka kemudian mendapatkan sepiring omurice berukuran raksasa sebagai ucapan terima kasih.
Adegan-adegan semacam ini menunjukkan bagaimana kebahagiaan tidak selalu hadir melalui pencapaian besar. Justru, kebersamaan dan makanan menjadi ruang bagi para tokohnya untuk sejenak melupakan tekanan hidup sehari-hari.
Mengapa Semua Ini Dibungkus dengan Visual yang Lucu?
Kehadiran Chiikawa tidak dapat dilepaskan dari budaya kawaii, sebuah budaya yang mengapresiasi segala sesuatu yang dianggap menggemaskan, ceria, maupun polos, baik berupa orang, benda, maupun karakter fiksi. Kawaii tidak hanya identik dengan sesuatu yang lucu secara visual, namun juga telah menjadi bagian dari cara masyarakat mengekspresikan diri dan menjalani gaya hidup.
Menariknya dalam budaya Jepang, kawaii merupakan fenomena yang tidak terbatas pada kelompok usia tertentu. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa mengekspresikan ketertarikan mereka terhadap budaya kawaii melalui gaya berpakaian, membeli, dan mengoleksi berbagai produk yang berkaitan dengannya.
Sebagaimana dijelaskan oleh Iain Macpherson dan Teri Jane Bryant, perkembangan budaya kawaii sendiri telah berjalan seiring dengan meningkatnya keberadaan industri kreatif dan komersialisasi budaya Jepang melalui berbagai medium, seperti manga, anime, video game, hingga berbagai produk komersial.
Karakter-karakter Sanrio seperti Hello Kitty, My Melody, dan Cinnamoroll, Pokémon, hingga gaya busana Lolita adalah beberapa contoh bagaimana estetika kawaii hadir dalam berbagai bentuk budaya populer. Uniknya, Kumiko Sato memaparkan dalam artikelnya jika perkembangan kawaii sebagai budaya komersial di Jepang mulai mengalami peningkatan pada sekitar 1970-an.
Pada masa tersebut, budaya kawaii berkembang melalui produk alat tulis yang dihiasi gambar karakter dan gaya tulisan tangan di kalangan anak sekolah yang biasa disebut marumoji. Dari perkembangan marumoji inilah kawaii tumbuh menjadi salah satu bagian penting dari budaya populer Jepang.
Namun, Oana-Maria Bîrlea dalam kajian cute studies-nya berpendapat bahwa budaya kawaii tidak dapat dipahami sebagai bentuk komodifikasi budaya semata. Lebih dari itu, estetika kawaii dapat meredakan stres, membangkitkan emosi positif, serta menumbuhkan empati melalui representasi tokoh-tokoh yang rapuh, tidak sempurna, dan rentan.
Jika dikaitkan dengan kehidupan modern yang serba dipenuhi tuntutan dan tekanan, estetika kawaii dapat dibaca sebagai ruang untuk merayakan hal-hal yang sering kali dianggap remeh, kekanak-kanakan, atau tidak produktif. Selain itu, visual yang lucu juga membuat kerentanan para tokohnya terasa berbeda.
Pada dasarnya, kerentanan adalah sesuatu yang dekat dengan pengalaman manusia. Namun, ketika kerentanan tersebut ditampilkan melalui makhluk-makhluk kecil yang menggemaskan, respons penonton bukanlah keinginan untuk menghindar. Penonton akan merasa gemas, berempati, atau bahkan muncul keinginan untuk melindungi mereka.
Karakteristik inilah yang tampak dalam diri Chiikawa dan teman-temannya. Mereka—terutama Chiikawa sendiri—hadir sebagai makhluk-makhluk kecil yang mudah takut, menangis, dan jauh dari imej tokoh yang sempurna. Terlepas dari apakah hal tersebut memang benar menjadi tujuan atau motivasi Nagano sebagai kreator, estetika kawaii dalam Chiikawa membuka ruang bagi pembacaan yang menarik.
Apabila kisah serupa ditampilkan melalui tokoh manusia, maka besar kemungkinan dunia Chiikawa akan terasa jauh lebih suram. Perjuangan mencari pekerjaan, kegagalan memperoleh sertifikasi, dan berbagai ancaman yang mereka hadapi akan tampak seperti gambaran langsung tentang betapa kerasnya hidup.
Sebaliknya, estetika kawaii tersebut membuat realitas hadir dalam bentuk yang lebih hangat tanpa menghilangkan kompleksitas persoalan yang dihadapi para tokohnya. Di balik kisah Chiikawa yang ringan namun tetap sarat akan pengalaman kelas pekerja, Nagano berhasil menghadirkan kehidupan yang terasa dekat dan menyentuh bagi penonton, alih-alih membuat penonton merasa cemas ataupun berusaha menjauh dari kerasnya realitas tersebut.
Sumber foto: chiikawa-merch.com


