Budaya Nongkrong dan Makna Sunyi di Era Digital

Ide Utama

Di era digital, nongkrong menjadi cermin bagaimana jarak bisa hadir bahkan saat duduk berdekatan.

Suara mesin espresso bersahutan dengan bunyi ketikan laptop di sebuah coffee shop di sore hari. Duduk berdampingan, namun masing-masing sibuk dengan layar laptop yang menyala dan tidak saling menatap. Pemandangan lumrah yang biasa ditemui di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Kegiatan nongkrong yang terasa paradoks: ramai sekaligus sunyi. 

Dulu, istilah “nongkrong” lekat kaitannya dengan diskusi, mengobrol, dan bercanda. Setiap kali membuat janji temu, rasanya pasti menggebu. Sekarang, aktivitas ini hanya menjadi sekadar kegiatan “sendiri yang dilakukan secara bersama-sama”. Bukan lagi soal cerita siapa yang lebih seru, atau pengalaman apa yang membuat kehidupan jadi lebih berwarna, melainkan sebatas berbagi koneksi Wi-Fi bersama. 

Tempat-tempat seperti cafe atau coworking space jadi tempat yang produktif, namun kehilangan rasa kedekatan. Rasanya, bunyi notifikasi lebih menyenangkan ketimbang obrolan dan cerita yang mahal harganya. 

Hal ini bukan hanya fenomena gaya hidup, tetapi juga pergeseran makna sosial. Dalam buku Alone Together karya Sherry Turkle dijelaskan kalau teknologi membuat manusia menjadi berjarak dan selalu terhubung tapi jarang hadir seutuhnya. Kegiatan “nongkrong” menjadi sekadar ritual eksistensialisme, “ada” meskipun tanpa interaksi. Kita lebih suka fokus kepada layar gawai dan pekerjaan ketimbang berdiskusi.

Sunyi di Tengah Keramaian

Bekerja di coffee shop sebagai bentuk budaya nongkrong yang minim interaksi. Foto: Shutterstock.

Ini bukan tentang kesendirian yang terhubung rasa rindu. Ini tentang memilih untuk mengeliminasi interaksi dan koneksi emosional. Secara fisik, kita hadir dan melakukan berbagai kegiatan. Tetapi kenyataannya, kita seringkali tidak memerhatikan kondisi sekitar. 

Coffee shop dan coworking space menjadi salah satu contoh dari “bersama tapi sendiri”. Di tempat umum atau ruang terbuka yang cenderung memfasilitasi banyak diskusi dan interaksi, justru membentuk keheningan yang dinormalisasi. 

Masing-masing individu sibuk dengan earphone dan tenggelam dalam dunianya sendiri. Seperti yang dikatakan Erving Goffman dalam The Presentation of Self in Everyday Life, manusia modern cenderung hidup dalam “pertunjukan sosial” di mana setiap orang memiliki perannya di depan publik. 

Sekarang, panggung tersebut bergeser ke ruang digital dengan meja kerja, cafe, atau layar laptop seperti panggung kecil untuk menunjukkan kalau kita produktif, fokus, dan terlihat sibuk.

Meskipun nongkrong masih menjadi rutinitas penting bagi orang muda dan masyarakat urban, kegiatan tersebut seringkali terasa kosong dan hampa, imbas dari tidak adanya keterhubungan emosional. Kita duduk bersama untuk menghindari rasa sepi, padahal yang kita temui justru bentuk baru dari kesepian itu sendiri. 

Dalam konteks ini, “sunyi” bukan lagi dimaknai sebagai tidak ada suara. Seperti kata filsuf Erich Fromm dalam The Art of Loving: Kesepian bukan karena tidak ada orang di sekitar kita, tetapi karena tidak ada hubungan yang bermakna di antara kita.

Di tengah hiruk pikuk suasana cafe, musik, dan notifikasi dari gawai, sunyi menjadi ruang kosong yang muncul tanpa adanya dialog sejati. Segala interaksi diekspresikan di depan layar semata. Padahal, tidak semua yang datang ke cafe atau coffee shop untuk bekerja, tetapi ada pula yang ingin mencari ruang baru untuk berjejaring dan merasakan kebersamaan. 

Hasilnya, nongkrong terkesan menjadi bentuk kompromi untuk segala kebutuhan sosial, di mana ruang sunyi tersebut berubah menjadi ruang yang aman, dan kedatangan orang lain terasa menenangkan. 

Namun, terkadang muncul momen-momen kecil yang mengingatkan kita bahwa manusia pada dasarnya diciptakan untuk berelasi. Bahwa di balik layar dan earphone, kita tetap merindukan suara manusia lain yang nyata, meskipun dalam hal kecil seperti obrolan ringan dengan barista atau sekadar obrolan basa-basi tentang cuaca. 

Mungkin, di era digital ini, budaya nongkrong menjadi cermin kebutuhan kita yang ingin merasa dilihat tanpa harus tampil, ingin bersama tanpa harus bicara. Dan semoga segala interaksi langsung tetap bisa terlaksana, seminim apapun wujud interaksi itu.

Sumber foto: Shutterstock.


Winda Aditya Utami. Bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Sebelumnya, dia menempuh pendidikan di Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya dan Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Indonesia. Suka menulis, mengamati seni, pemerhati ilmu sosial dan humaniora.

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan. 

Bagikan
WhatsApp
X
Facebook
LinkedIn
Email
Print