Potret Skena dan Rebranding Ruang di Jakarta Timur

Ide Utama

Fotografi bukan lagi soal menangkap momen, tapi membentuk realitas. Dalam dunia skena, citra bisa lebih penting dari kenyataan itu sendiri.

Sebuah foto terpampang di akun Instagram grup musik @troubl3ss_ yang menandai akun kafe di Jakarta Timur (nama akun: @klopsicoffee). Foto tersebut diunggah pada 2 Mei 2025. Diketahui, foto tersebut diambil oleh social media & event specialist Klopsi Coffee ketika grup musik Troubless tampil pada 30 April 2025. 

Foto 1: Akun Instagram @troubl3ss_

Saat melihat foto tersebut, saya mengambil sudut pandang yang ditawarkan oleh penulis asal Amerika Serikat Susan Sontag dalam bukunya On Photography yakni realitas selalu ditafsirkan melalui laporan yang diberikan oleh gambar. Menurutnya, masyarakat menjadi modern ketika kegiatan utamanya adalah mengonsumsi dan memproduksi ulang gambar-gambar yang tersebar untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, politik, maupun kebutuhan kebahagiaan pribadi. 

Gambar-gambar yang berkaitan dengan masyarakat modern “seolah-olah” mencerminkan kebutuhan mereka. Gambar-gambar tersebut memiliki kekuatan untuk menentukan kebutuhan manusia dan berfungsi sebagai pengganti sentuhan akan pengalaman dengan realita yang diinginkan. 

Pada foto 1, teknik pengambilan slow shutter speed menghasilkan jenis foto action blur serta pewarnaan yang dekat dengan kesan absurdity, rebel, seolah tidak ingin dilihat sebagai entitas yang kaku atau mainstream. “Ingin terlihat berbeda.” Penjelasan yang mirip dan berdekatan dengan istilah skena

Apa Itu Skena?

Kata skena berasal dari kata scene, yang merujuk pada potret orang-orang dengan ciri tertentu yang berkumpul dan melakukan aktivitas bersama. Telusur saya pribadi menyimpulkan bahwa hal ini lebih mengarah pada aktivitas komunitas underground yang berasal dari kelompok musik barat masa 1960-an (masa perang dunia kedua). 

Dari sudut pandang politik, istilah underground dapat dipahami sebagai suatu bentuk gerakan kontra-hegemonik yang menentang struktur kekuasaan dominan. Merriam-Webster mendefinisikannya sebagai “gerakan atau kelompok tidak resmi, tidak diakui, atau ilegal namun bersifat informal, khususnya kelompok atau gerakan avant-garde yang beroperasi di luar tatanan yang mapan.” 

Perlawanan ini dapat ditujukan terhadap berbagai sistem yang dianggap menindas, seperti institusi keagamaan, norma sosial, negara, kapitalisme, atau struktur dominasi lainnya. Dari latar belakang tersebut, muncullah apa yang disebut sebagai budaya underground—sebuah ekspresi budaya alternatif yang secara aktif menolak nilai-nilai dan norma-norma budaya arus utama. Istilah underground sendiri memiliki akar historis sebagai sebutan bagi gerakan-gerakan perlawanan yang berkembang pada masa Perang Dunia Kedua dan semakin populer pada era 1960-an.

Skena kemudian diadaptasi sebagai akronim dari sua, cengkerama, dan kelana. Sampai saat ini, kajian terhadap ciri khas skena terletak pada ciri fesyen, musik, dan tempat

Membaca Wacana Fotografi Skena

Saya ingin menambahkan satu wacana terkait fotografi skena. Pengusung ide foto 1, Luthfi, menyatakan bahwa ia mengikuti hack dengan menggunakan lower speed untuk membangun citra “keren” dan “tidak biasa”. Selain itu, keterbatasan alat membuatnya terdorong untuk melakukan inovasi foto. Postingan di akun @KlopsiCoffee juga ada yang mengusung tema serupa untuk mengenalkan salah satu menu mereka, yakni iced americano.

Foto 2: Sumber: Instagram @Klopsicoffee

Pengusungan tema ini sejalan dengan rebranding Kafe Klopsi yang semua bertema keluarga dengan label “eat and chill” menjadi “social space”. Salah satu strategi yang digunakan adalah penggunaan teknik pengambilan foto untuk menciptakan efek blur. 

Seperti yang dikatakan oleh Ajidarma, konstruksi realitas baru dalam film merupakan suatu upaya pembersihan dan pemurnian realitas yang telah terkontaminasi. Produsen membangun dunia ideal yang dikehendakinya, untuk merefleksikan kembali dunia secara lebih akurat. Kemudian, ia menggugurkan dunia yang ada sebelum membangunnya kembali. 

Pemaknaan atas tongkrongan dan skena diwujudkan dalam visual foto 1 dan foto 2. Pemilihan blur yang seolah mendekatkan penonton/pelihat dengan ideologi skena yang bebas dan tidak biasa. Foto 1 dan foto 2 merupakan realitas baru yang dibangun oleh juru foto. 

Pembedahan yang bisa dilakukan pada foto 1 dan foto 2 terkait 3 dimensi realitas adalah sebagai berikut: realitas dimensi pertama adalah realitas juru foto sebagai social media & event specialist di kedai kopi Jakarta Timur. Kemudian, realitas dimensi kedua, yakni realitas baru yang dibangunnya adalah pemaknaan atas skena yang belum selesai, ia menggabungkan pemaknaan atas konstruksi skena di masyarakat digital dan pemaknaannya sendiri terhadap citra dalam sebuah foto. Terakhir, realitas dimensi ketiga adalah foto 1 dan foto 2. 

Wacana fotografi dalam per-skena-an juga terlibat penuh pada aktivitas kolektif untuk berburu dan saling mengkontestasikan barang-barang jadul, seperti kamera analog, cetak foto manual, photobox, yang kemudian menghadirkan ruang baru untuk kekuasaan modal masuk ke dalamnya. 

Menurut Sontag, fotografi menjadi praktik yang hampir sama luasnya dengan seks dan menari. Seperti layaknya budaya massa yang lain, fotografi tidak hanya dipraktikkan sebagai seni. Fotografi merupakan ritual sosial, pertahanan terhadap kecemasan, dan alat kekuasaan. 

Konteks publikasi foto pada kedua gambar itu bertujuan untuk menggaet massa skena yang lebih luas. Dalam hal ini, Klopsi Coffee tengah membangun realitas baru sebagai kafe skena yang menjadi opsi nongkrong di Jakarta Timur. 

Sebagaimana yang kita tahu, wilayah ini notabene bukan tongkrongan anak skena yang ada di Jakarta Selatan. Maka, terdapat realitas lain yang coba dihancurkan oleh juru foto, yakni realitas bahwa Jakarta Timur merupakan daerah pinggiran yang lebih dekat dengan nuansa pulang kerja dan lelah (bukan untuk nongkrong). 


Miranti Rohmanda adalah mahasiswa Magister Ilmu Susastra FIB UI yang baru saja melaksanakan seminar proposal. Aku suka menulis, membaca, bermain musik, dan mengobrol. Tapi aku tidak terlalu suka obrolan yang menggunakan bahasa-bahasa berat, terutama dalam membahas konsep teori tertentu. Aku ingin terus menulis dan berkarya dengan segala apa yang melingkupiku, yang kutangkap, untuk aku bagikan kepada orang-orang agar merasakan pengalaman menyenangkan yang sama dalam mencerna sesuatu.

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan. 

Bagikan
WhatsApp
X
Facebook
LinkedIn
Email
Print

Khusus buatmu