Kelas atas merawat kemewahan di atas kuburan keringat buruh yang dibayar murah. Sebaliknya, kelas bawah memilih membunuh diri secara perlahan dengan rangkap pekerjaan dan durasi kerja yang lama. Ritual ini tetap memiliki syarat yang sama sejak dulu: tumbal. Bergantung dari jenis pesugihan, persembahan dapat dipilih antara diri sendiri, orang terdekat, atau nyawa orang lain yang tak berdosa.
Kerja Lembur Bagai Kuda
Aku mengenal seorang pekerja yang hidupnya didedikasikan untuk bekerja. Ia pergi jam 9 pagi dan pulang setelah Isya, kurang lebih pukul 8 malam. Setelah pulang, terkadang masih harus berurusan dengan client untuk Zoom meeting. Jam kerjanya sibuk, tapi gajinya cukup sepadan.
Sejak dulu hingga saat ini, persaingan pada sebagian industri semakin kompetitif. Satu karyawan dapat memegang berbagai peran yang berbeda. Tuntutan pekerjaan semakin tinggi dan mereka perlu bekerja lebih lama.
Ada istilah 9 to 5 untuk menggambarkan jam kerja normal, yaitu masuk kerja pukul 9 pagi dan pulang pukul 5 sore. Intinya, kerja dalam durasi 8 jam selama 5 hari kerja atau dalam kata lain, 40 jam seminggu. Namun, kini orang bisa saja kerja 996 (masuk kerja pukul 9, pulang pukul 9, selama 6 hari kerja) atau yang lebih ekstrem 007 (harus siap siaga setiap hari).
Istilah 996 mulanya populer dan banyak terjadi di Cina. Budaya kerja seperti ini turut dipopulerkan oleh Jack Ma (bos Alibaba). Baginya, jam kerja yang lama adalah perwujudan kerja keras, yang pada akhirnya dapat mengarahkan pada kesuksesan.
Keputusan Jack Ma tak lepas dari kritik, entah dari pemerintah sendiri maupun komunitas developer, yang terkenal dengan budaya kerja ‘serba cepat’. Pemerintah Cina menilegalkan model kerja seperti itu dan seorang pengguna anonim di Github membuat laman khusus 996.ICU yang memperingatkan merugikannya budaya 996 bagi kesehatan para pekerja.
Meniti Jalan Pesugihan
Ada banyak cerita pesugihan di Indonesia, yang konon melibatkan makam orang sakti, hewan jadi-jadian, atau makhluk halus. Contohnya, babi ngepet, pocong, dan tuyul. Meskipun metodenya berbeda-beda, ada kesamaan yang bisa ditarik: Sama-sama menghasilkan uang yang banyak dan membutuhkan tumbal yang paling berharga bagi pelakunya.
Kalian boleh ragu terhadap cerita mistis semacam itu. Namun, konsep pesugihan cukup masuk akal. Realitanya, siapa saja bisa jadi pelaku pesugihan ini, yang membedakan hanya niat dan siapa korbannya. Bagi kalangan yang sekadar ingin bertahan hidup, mereka terpaksa menumbalkan kewarasan, fisik, dan waktu keluarganya sendiri di meja kerja.
Sementara itu, bagi pemegang sistem yang menganut paham ‘tiada tuhan selain kapital’, ini adalah murni urusan kerakusan (konsep tiada tuhan selain kapital saya pinjam dari lagu Efek Rumah Kaca dengan judul yang mirip). Mereka menciptakan eksploitasi terstruktur supaya tidak perlu repot-repot mengorbankan nyawanya sendiri. Cukup jadikan karyawan sebagai tumbalnya.
Di balik budaya kerja 996, terdapat relasi kelas yang tidak seimbang. Bagi banyak pekerja dari kelompok ekonomi bawah, jam kerja yang panjang dipandang sebagai jalan untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan mempertahankan pekerjaan, meski risikonya harus dibayar dengan kesehatan, bahkan nyawa. Seperti pesugihan lainnya, tujuannya adalah mengubah nasib.
Sayangnya, ada yang perlu dikorbankan untuk mencapai itu. Kondisi kerja yang begitu ekstrem, mengakibatkan berbagai masalah kesehatan dan sosial. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa bekerja berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit diabetes non-insulin, strok, dan depresi. Bahkan, bagian terburuknya dapat menyebabkan kematian mendadak.
Ambisi mengejar pertumbuhan dan produktivitas sering kali dibayar dengan harga yang mahal. Pada 29 Desember 2020, seorang karyawan berusia 22 tahun dari Pinduoduo, salah satu perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok, meninggal dunia setelah diduga mengalami kelelahan akibat bekerja. Kasus tersebut memicu perdebatan luas mengenai budaya kerja 996 yang telah lama menjadi bagian dari industri teknologi di Tiongkok.
Dari segi sosial, kerja berlebihan dapat mengurangi quality time dengan keluarga. Berdasarkan survei dari Hewlett dan Luce, 77% persen perempuan yang menjalani pekerjaan ekstrem mengatakan bahwa pekerjaan itu mengganggu mereka untuk membangun hubungan yang kuat dengan anak-anak.
“Anak-anak? Aku tidak peduli dengan anak-anak! Aku hanya peduli dengan uang orang tua mereka!” Ungkapan kepiting kikir Krabs di serial televisi Spongebob Squarepants ini seolah-olah menggambarkan ironi yang ada. Pekerjaan dan keluarga seringkali dipandang berjalan satu arah: bekerja untuk mendapat uang dan mencukupi kebutuhan keluarga. Padahal keduanya saling memengaruhi.
Sehat tidaknya tempat kerja, dapat memengaruhi kualitas hubungan dalam keluarga. Ketidakhadiran orang tua dapat menyebabkan penurunan prestasi belajar, perasaan tidak bahagia, dan kemampuan sosial yang lebih rendah pada anak-anak.
Hubungan romantis dapat terkena dampak negatif ketika pasangan terlalu sering bekerja lembur, sebab energi yang seharusnya tersisa untuk membangun kedekatan sudah terkuras habis di tempat kerja. Sebagaimana pesugihan lainnya, siapapun bisa menjadi tumbal, tak terkecuali anggota keluarga sendiri.
Apakah Sistem 996 Perlu Ditiru?
Meskipun tampak masuk akal bahwa semakin lama seseorang bekerja, semakin banyak pula yang dapat dihasilkan, kenyataannya tidak selalu demikian. Cara pandang ini lahir dari anggapan bahwa manusia bekerja layaknya mesin: mampu terus bergerak secara mekanis tanpa batas. Padahal, manusia memiliki kebutuhan fisik, emosional, dan sosial yang tidak dapat diabaikan.
Setiap kali jam kerja bertambah, ada waktu yang harus dikorbankan. Waktu untuk berkumpul bersama keluarga, menjalani hobi, beristirahat, atau membangun relasi sosial perlahan tergantikan oleh pekerjaan. Karena itu, lembur tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga mengurangi ruang bagi kehidupan di luar pekerjaan.
Dalam jangka pendek, efeknya tidak terasa. Seperti tidak ada masalah dan lembur tampak meningkatkan produktivitas. Begitu kerja lembur sering dilakukan, kita memiliki waktu tidur yang lebih sedikit. Jam tidurnya digeser untuk melakukan aktivitas di luar pekerjaan.
Hutang tidur seperti ini dapat menimbulkan kurangnya fokus saat bekerja. Akhirnya, pekerjaan yang seharusnya ringan terasa lebih berat. Terutama pada pekerjaan-pekerjaan yang lebih membutuhkan proses berpikir daripada kekuatan otot. Niat untuk ‘mendapatkan lebih banyak’ berakhir mendapatkan lebih sedikit, karena tingkat produktivitas akan menurun dari waktu ke waktu.
Sistem seperti ini menumbalkan banyak orang. Pertama, dari pekerja itu sendiri. Kedua, perusahaan. Ketiga, keluarga dari pekerja yang lembur terus-menerus. Keempat, orang-orang yang membutuhkan pekerjaan. Pekerja tidak perlu lembur jika perusahaan merekrut lebih banyak orang. Semakin sering pekerja lembur, maka mengindikasikan bahwa mereka mengerjakan job desc dua orang atau lebih.
Budaya kerja berlebihan juga memiliki konsekuensi yang lebih luas bagi masyarakat. Ketika jam kerja yang panjang terus dinormalisasi, perusahaan cenderung mengandalkan lembur daripada membuka kesempatan kerja baru. Akibatnya, distribusi pekerjaan menjadi tidak merata, sementara sebagian orang terus bekerja melampaui batas dan sebagian lainnya kesulitan memperoleh pekerjaan.
Dalam kondisi seperti ini, tidak mengherankan jika daya beli masyarakat melemah karena kesempatan memperoleh penghasilan juga tidak tersebar secara adil. Seperti pesugihan lainnya, tumbalnya tidak hanya pekerja, tetapi juga masyarakat.
Jika diberi kesempatan, akankah kalian menempuh jalan pesugihan?
Sumber foto: magnific.com


