Seruan Pengingat dari Timur

Ide Utama

Seringkali, rasisme bukan lahir dari masyarakat yang kita curigai, melainkan dari superioritas yang diam-diam kita bawa sendiri.

Sudah dua tahun aku tinggal di tanah Papua Pegunungan, tepatnya di Distrik Mamit. Tanah yang asri dengan gunung-gunung yang menjulang dan pemandangan yang membentang luas. Sebelum menjejakkan kaki di sini, aku telah lebih dulu dijejali dengan berbagai stereotipe tentang orang Papua. Katanya, mereka kasar dan jorok, atau bahkan tempat yang tidak aman bagi para pendatang. Dan yang paling ekstrem, daerah yang aku tempati merupakan sarang OPM (Organisasi Papua Merdeka). 

Namun, ternyata itu hanyalah anggapan kosong. Kenyataannya, tempat ini sangat aman dan nyaman. Begitu aman hingga aku menjadi satu-satunya Muslim di distrik ini tanpa pernah sekalipun merasakan diskriminasi. Yang kutemui justru tangan terbuka, hati lapang, dan keramahan tulus. 

Aku datang sebagai seorang mantri. Masyarakat di sini biasa memanggilku Paman. Ini bukan sapaan Om, melainkan akronim dari Pak Mantri. Berpapasan dengan masyarakat Papua secara langsung membuatku belajar bahwa keramahan mereka bukanlah basa-basi. Mereka sering membagi hasil bumi tanpa pamrih, seperti alpukat dan ubi jalar. 

Kehidupan mereka masih berpijak pada kultur yang kental. Pada acara besar seperti bakar batu, sebuah tradisi memasak makanan secara komunal, para pendatang justru diberi tempat terhormat. Daging babi dibagikan dengan sukacita, terutama kepada pendatang yang berprofesi sebagai guru dan tenaga kesehatan. Mengajak pendatang untuk ikut serta dalam tradisi ini seolah ingin menegaskan bahwa siapa pun yang datang dengan niat baik merupakan bagian dari keluarga.

Berbalik Arah

Stereotipe negatif yang dilekatkan kepada masyarakat Papua justru berbalik arah. Yang kulihat, para pendatanglah yang datang dengan sikap superior, seolah paling suci. Mereka menjaga jarak, enggan menyentuh tangan-tangan hangat yang menyapa, menolak masuk ke dalam honai (rumah adat Papua), bahkan menolak hidangan yang disuguhkan masyarakat lokal dengan alasan kebersihan.

Sikap semacam ini mengingatkanku pada cara pandang kolonial. Menempatkan diri di puncak hierarki, dan melihat orang lain sebagai “yang lain”. Di sinilah aku mulai sadar. Bukan masyarakat lokal yang membuat tanah ini terasa tidak aman, melainkan kita, para pendatang itu.

Mestinya, sebagai orang baru di tanah Papua, kita harus berprinsip “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Pendatang seharusnya melebur dengan kultur yang ada, bukan merasa sebagai juru selamat. Seperti kata filsuf Immanuel Kant, “Bertindaklah sedemikian rupa sehingga engkau memperlakukan kemanusian entah dalam dirimu sendiri atau dalam diri orang lain senantiasa sebagai tujuan dalam dirinya sendiri, dan tidak pernah melulu sebagai sarana.”

Sebuah pertanyaan besar kadang terbesit di pikiranku, mengapa masyarakat di sini kerap menolak pendatang kecuali guru dan tenaga kesehatan? Mereka menutup rapat-rapat aparat keamanan, tetapi dengan tangan terbuka menyambut misionaris asal Australia. Ia disambut bukan sebagai orang asing, melainkan seperti saudara lama yang baru kembali. 

Dari pertemuanku dengannya, aku kini mulai mengerti. Sang misionaris hadir tanpa jarak. Ia ramah dan mengundang siapapun untuk masuk ke dalam rumah. Ia mendedikasikan pengetahuannya untuk membuat listrik dari tenaga air, bahkan menulis kamus bahasa Inggris ke bahasa Lani. Ia tidak datang membawa hierarki. 

Sementara kita? Bahkan untuk membuat kamus bahasa Indonesia-Lani saja tak pernah tergerak. Kita hidup dengan sekat yang kita ciptakan sendiri. 

Seorang rekanku yang merupakan lulusan antropologi pernah berkata, Papua khususnya Papua Pegunungan tidak mengenal sistem kerajaan seperti di daerah-daerah lain. Mereka hidup tanpa struktur feodal yang kental dengan strata sosial. Sementara kita yang lahir dari kultur monarki, terbiasa berpikir dalam hierarki. Kebiasaan semacam inilah yang membuat kita sulit untuk melebur.

Wasiat Pengingat

Sebelum tulisan ini mencapai akhir, aku ingin menyampaikan satu hal: pendatang, siapa pun dia, harus belajar melebur dan membaur. Seperti kata Tan Malaka, “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.” 

Karena pada akhirnya, manusia hanyalah manusia. Tak ada yang lebih tinggi, tak ada yang diciptakan lebih rendah. Warna kulit, suku, atau asal-usul seharusnya tidak menjadi batas. Kita diciptakan untuk saling mendukung, bukan saling menindas. Di tanah yang jauh dari hingar-bingar kehidupan kota, aku justru belajar satu hal yang paling sederhana namun paling penting: melihat manusia lain sebagaimana adanya, setara dan utuh.

Sumber Foto: Pexels


Muhammad Nur Aditiya. Pemalas yang melankolis.

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan. 

Bagikan
WhatsApp
X
Facebook
LinkedIn
Email
Print