Uang Panai, Momok Menakutkan Baru Generasi Masa Kini

seserahan pernikahan

Ide Utama

“Uang panainya berapa?”

Pertanyaan itu hampir selalu muncul ketika membicarakan pernikahan orang Bugis. Setiap kali uang panai menjadi perbincangan di media sosial, yang muncul hampir selalu sama: nominal ratusan juta rupiah, emas bertumpuk, rumah, hingga cerita tentang calon mempelai laki-laki yang mengundurkan diri karena tidak sanggup memenuhinya. Di sela-sela percakapan itu, ada satu nama yang hampir selalu ikut disebut: mama aji, kerabat dekat keluarga perempuan yang konon memiliki suara besar dalam menentukan besaran uang panai.

Uang Panai Suku Bugis Sulawesi Selatan

Secara filosofis, uang panai (duit menre’) adalah tradisi suku Bugis yang sangat luhur. Ia  merupakan simbol penghormatan tertinggi dari pihak laki-laki kepada perempuan,  sekaligus pembuktian bahwa sang pria adalah sosok pekerja keras yang bertanggung  jawab untuk menafkahi keluarga. 

Nilai panai ditentukan lewat musyawarah pada pihak  laki-laki kemudian disetujui oleh kedua pihak namun, jika keputusan yang diambil  memberatkan salah satu pihak maka kedua pihak seharusnya mencari jalan tengah agar pernikahan terlaksana. 

Dalam beberapa tahun terakhir, tradisi ini menjadi perbincangan hangat di berbagai media sosial. Tidak sedikit yang memandang uang panai sebagai beban ekonomi, bahkan sebagai momok yang membuat laki-laki enggan menikah dengan perempuan Bugis. 

Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, praktik uang panai tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial masyarakat Bugis, termasuk cara mereka memandang perkawinan pada masa lalu. Bagi generasi orang tua, menikah pada usia muda—bahkan melalui perjodohan di bawah usia 20 tahun—merupakan sesuatu yang lazim dijumpai.

Menurut masyarakat suku Bugis, menikah adalah hal yang harus disegerakan karena menikah dianggap sebagai gerbang pembuka rezeki, pernikahan  adalah sebuah fase hidup otomatis yang tidak seharusnya ditunda-tunda. Namun, berbeda halnya dengan Gen Z hari ini, pernikahan adalah hal yang harus di pikirkan seribu kali bahkan pernikahan tidak lagi seperti dunia fantasi yang bisa menghasilkan kupu-kupu di perut, melainkan helaan napas panjang dan terkadang menimbulkan kecemasan. 

Ada pergeseran makna pernikahan di masyarakat Bugis. Pernikahan bukan lagi sekedar hubungan romantis atau  pencapaian hidup, melainkan telah bermutasi menjadi sebuah momok yang  menakutkan. Di Sulawesi Selatan konkretnya dalam sebuah tradisi yang kini menjelma menjadi beban psikologis, yaitu Uang Panai.

Pergeseran Makna: Dari Penghargaan Menjadi Ajang Flexing 

Di media sosial, tradisi uang panai sering direpresentasikan melalui kisah perempuan yang menerima uang panai hingga ratusan juta rupiah, rumah, emas, atau aset bernilai tinggi. Representasi tersebut kemudian melahirkan anggapan bahwa nominal uang panai yang besar hanya diperuntukkan bagi perempuan yang memiliki status sosial tertentu, seperti berpendidikan tinggi, berprofesi sebagai dokter, berstatus PNS, atau telah menyandang gelar Hajjah. 

Perbincangan mengenai uang panai di media sosial turut menggeser cara sebagian generasi muda memaknainya. Uang panai kerap dipersepsikan sebagai “harga perempuan” yang harus dibayar oleh calon mempelai laki-laki. Dalam pandangan ini, fungsi uang panai sebagai biaya penyelenggaraan resepsi menjadi kabur dan digantikan oleh logika prestise: semakin besar nominalnya, semakin tinggi pula gengsi keluarga di mata lingkungan sosial maupun warganet. 

Apa yang beredar di media sosial memang membentuk cara banyak orang memahami uang panai. Namun, jika perbincangan hanya berhenti pada nominal dan gengsi, kita justru kehilangan kesempatan untuk melihat makna yang lebih mendasar dari tradisi ini. Pertanyaan tentang mengapa uang panai ada, apa fungsi sosialnya, dan faktor apa yang memengaruhi besarannya menjadi sama pentingnya untuk diajukan, seperti pada kasus viral mahar ratusan juta dan kuda yang menghebokan media sosial.

Ketika kita berbicara soal tradisi suku lain, posisi kita sering kali adalah orang  luar dari suku itu, atau bahkan kita mungkin adalah bagian dari suku tersebut namun  tumbuh besar di perantauan sehingga sudah terlalu jauh terasing dari akar adat dan  tradisi leluhur. Lantas, siapa yang salah dalam melihat pergeseran ini? 

Tentu kita tidak  bisa menunjuk satu pihak. Salah paham massal ini terjadi murni karena ketidaktahuan kita akibat gelombang informasi media sosial yang tidak tersaring  dengan baik. 

Era digital: Panggung yang menghasilkan ketakutan generasi sekarang

Era digital memang menyediakan panggung bagi siapa saja untuk memamerkan  apa saja. Ketika sebuah pernikahan adat Bugis dengan uang panai miliaran rupiah viral,  netizen langsung menyimpulkan bahwa seluruh perempuan suku Bugis menerapkan standar yang  sama. 

Hal ini memicu generalisasi yang keliru dan kemudian berkembang menjadi momok menakutkan dikalangan anak muda yang ingin menikahi perempuan dari suku bugis. Uang panai bukanlah sesuatu yang semestinya dipahami sebagai beban yang sengaja memberatkan pihak laki-laki. 

Hal inilah yang sering ingin saya sampaikan, terutama ketika melihat berbagai perbincangan di media sosial yang kerap menggambarkan uang panai sebagai “harga” yang dipatok oleh keluarga perempuan. Dalam praktiknya, laki-laki yang datang dengan niat baik tidak serta-merta dihadapkan pada nominal tertentu, misalnya Rp100 juta atau lebih. 

Sebaliknya, keluarga pihak perempuan terlebih dahulu menanyakan kesanggupan calon mempelai laki-laki. Dari sanalah berlangsung proses musyawarah dan negosiasi antar keluarga, tentu bukan dalam pengertian tawar-menawar layaknya transaksi jual beli, melainkan upaya mencapai kesepakatan yang mempertimbangkan kemampuan kedua belah pihak. 

Dalam proses negosiasi ini pihak perempuan akan menjabarkan keperluan  yang harus dibeli dan menjelaskan uang itu akan digunakan untuk apa. Jadi, uang panai tidak digunakan secara sembarangan karena dasarnya uang panai ini adalah uang kebutuhan pesta pernikahan. Bahkan tidak jarang pihak perempuan membantu pihak laki laki untuk memenuhi target uang panai namun, tentu saja hal ini tidak banyak yang  tahu karena biasanya hanya keluarga inti yang mengetahui bantuan pihak perempuan pada  pihak laki-laki. 

Uang Panai Perempuan Suku Bugis Seluruhnya Fantastis?

Asal-usul tradisi uang panai ini dapat ditelusuri dari kebiasaan nenek moyang  masyarakat suku bugis di Sulawesi Selatan, yang menganggap pemberian uang panai  sebagai bentuk penghormatan khusus kepada perempuan yang akan dipersunting.  Secara historis, uang panai juga memiliki makna sebagai “pembeli darah” atau tanda  penghargaan yang diberikan kepada perempuan yang berasal dari keturunan  bangsawan, yang menunjukkan adanya nilai sosial dan status dalam tradisi tersebut. 

Yang perlu diketahui adalah, bahwa apa yang sering kali beredar di media  sosial tidaklah semuanya benar, tidak semua suku bugis memiliki uang panai yang  fantastis namun fakta bahwa seorang perempuan terutama gadis yang menikah dengan uang  panai di bawa rata-rata sering kali menjadi perbincangan. 

Namun, tidak sedikit perempuan yang mendapatkan uang panai di bawah 30 juta terutama perempuan-perempuan yang sebelumnya sudah pernah menikah, umumnya perempuan yang sudah menikah memiliki uang panai di bawah uang panai normal pada umumnya di suku bugis. 

Bagi suku Bugis, tradisi uang panai sangat erat dengan konsep Siri’na pacce  (Harga diri dan rasa kemanusian). Nilai uang panai yang tinggi sesungguhnya diniatkan agar pihak pria menghargai perempuan yang dinikahinya dengan harapan perceraian atau kekerasan dalam rumah tangga tidak  terjadi karena menyadari betapa besarnya  perjuangan materi dan mental untuk mendapatkannya. 

Namun, ketika uang panai mulai disalahartikan hanya sebagai ajang adu gengsi, pamer kekayaan, atau ajang menaikkan  harga diri secara semu di media sosial terjadilah distorsi budaya. Pernikahan dalam adat Bugis pada dasarnya adalah penyatuan dua keluarga  besar, sebuah ikatan suci yang sarat akan doa, restu, dan nilai gotong royong. 

Uang panai tidak selayaknya dituduh sebagai pembunuh mimpi-mimpi pernikahan generasi  muda. Media sosial mungkin akan terus membanjiri kita dengan konten-konten  pernikahan mewah yang penuh kemilau. Namun, kita harus cerdas dan kritis. Jangan biarkan  ketidaktahuan kita membunuh tradisi luhur, dan jangan biarkan gengsi semu merenggut  kebahagiaan masa depan kita.

Sumber foto: Pexels.com 

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan. 

Bagikan
WhatsApp
X
Facebook
LinkedIn
Email
Print

Khusus buatmu