The Young Woman Survival Guide

Young woman survival guide

Ide Utama

Deskripsi

The Young Woman Survival Guide adalah karya video reflektif yang mengangkat pengalaman keseharian perempuan muda, beban-beban kecil yang sering dianggap wajar, namun terus hadir dan menumpuk dalam kehidupan sehari-hari mereka. Melalui narasi personal dan visual sederhana, karya ini menyoroti bagaimana pengalaman perempuan muda kerap diremehkan, dikomentari, dan dinormalisasi.

Karya ini tidak bertujuan menghakimi atau memberi solusi instan, melainkan membuka ruang untuk mendengar dan memahami. Bahwa cerita perempuan muda bukan sekadar keluhan, melainkan cerminan sistem, budaya, dan cara dunia memperlakukan perempuan muda.

Karya

Refleksi

Mengikuti KPPM 2025 menjadi pengalaman yang penting dan bermakna dalam proses belajarku, terutama dalam memahami hubungan antara pengalaman pribadi dan realitas sosial di sekitar. Selama mengikuti KPPM, aku belajar bahwa hal-hal yang sering dianggap kecil, biasa, atau bahkan sepele dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya menyimpan lapisan makna yang lebih dalam ketika dilihat secara kritis dan reflektif.

Sebagai perempuan, aku semakin menyadari bahwa banyak pengalaman yang kerap dinormalisasi, mulai dari beban domestik, tuntutan sosial, hingga komentar terhadap tubuh dan pilihan hidup sering kali tidak pernah benar-benar dibicarakan secara serius. Melalui KPPM, aku diajak untuk tidak sekadar menerima pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang “sudah sewajarnya,” tetapi melihatnya sebagai bagian dari sistem dan budaya yang membentuk cara perempuan diperlakukan.

Proses KPPM juga membantuku memahami bahwa pengalaman sehari-hari dapat menjadi sumber pengetahuan. Apa yang dirasakan, dialami, dan dipikirkan tidak berhenti sebagai cerita personal, melainkan dapat dibaca sebagai refleksi kondisi sosial yang lebih luas. Dari sini, aku belajar bahwa bercerita bukan hanya tentang mengekspresikan diri, tetapi juga tentang membangun pemahaman, empati, dan kesadaran bersama.

Melalui pembuatan karya The Female Survival Guide, aku mencoba menerjemahkan pembelajaran tersebut ke dalam bentuk visual dan narasi yang dekat dengan kehidupan perempuan muda. Proses ini mengajarkanku untuk lebih peka terhadap detail kecil, memilih sudut pandang dengan sadar, serta memahami bahwa karya tidak harus selalu besar atau spektakuler untuk bisa bermakna.

Secara keseluruhan, KPPM 2025 memberiku ruang untuk belajar, merefleksikan diri, dan mengembangkan cara berpikir yang lebih kritis dan empatik. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya proses berkaryaku, tetapi juga membantuku melihat pengalaman perempuan termasuk pengalamanku sendiri sebagai sesuatu yang layak didengar, dipahami, dan dihargai.


Zahratul (Zahra) adalah kolaborator Klub Pengetahuan Perempuan Muda 2025 yang berasal dari Lhokseumawe, Aceh. Saat ini ia sedang berkuliah di UIN Sulthanah Nahrasiyah Lhokseumawe, program studi Tadris Bahasa Indonesia. Zahra percaya bercerita bukan hanya tentang mengekspresikan diri, tetapi juga tentang membangun pemahaman, empati, dan kesadaran bersama.

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan. 

Bagikan

Khusus buatmu