Belajar dari Pengetahuan Buruh: Solidaritas, Candaan, dan Politik Keseharian 

buruh bangunan menggunakan masker wajah tertawa.

Ide Utama

Pengalaman penelitian bersama teman-teman serikat dan buruh dalam beberapa tahun terakhir membuat saya kembali mempertanyakan apa yang selama ini disebut sebagai pengetahuan.

Melalui interaksi keseharian dengan mereka, saya mulai memahami bahwa pengetahuan tidak selalu dibentuk melalui bahasa politik formal, dokumen legal, atau laporan kebijakan. Pengetahuan juga dapat hadir dari pengalaman keseharian, perbincangan kasual, hingga kirim candaan yang beredar di ruang digital. 

Pengetahuan yang tumbuh di luar proses formal tersebut bukanlah pengetahuan yang kurang bernilai. Sebaliknya, ia seringkali menjadi bentuk pengetahuan yang memberdayakan karena lahir dari pengalaman langsung atas opresi dan ketimpangan struktural dalam kehidupan sehari-hari. 

Pengetahuan ini tidak selalu muncul dalam bentuk yang rapi dan sistematis seperti di institusi formal. Namun, dari bentuk yang tampak informal itu, buruh justru sebagai peramu pengetahuan pengetahuan yang bisa membaca situasi, membangun strategi, dan merawat keberlanjutan gerakan.

Pengetahuan Tidak Pernah Netral 

Dalam bukunya Epistemologies of the South, Boaventura de Sousa Santos berpendapat bahwa pengetahuan tidak pernah berjalan netral. 

Setiap bentuk pengetahuan memiliki caranya sendiri agar bisa dianggap sebagai pengetahuan. Dalam paradigma modernitas Barat, Santos membedakan dua bentuk utama pengetahuan, yaitu pengetahuan sebagai regulasi (knowledge as regulation) dan pengetahuan sebagai emansipasi (knowledge as emancipation). 

Pengetahuan sebagai regulasi berupaya memahami ketidaktahuan sebagai kekacauan dan mengartikan pengetahuan sebagai keteraturan. Sehingga, pengetahuan dipahami sebagai sesuatu yang punya peran untuk mengatur, mengukur, dan mengontrol kehidupan sosial. Dalam posisi ini, pengetahuan dikatakan layak jika hadir melalui laporan formal, dokumen legal, indikator terukur, hingga tata kelola yang teknokratis. Pengetahuan menjadi berguna jika dapat membuat masyarakat lebih terkontrol dan terukur. 

Sementara itu, pengetahuan sebagai emansipasi justru memahami ketidaktahuan bukan sebagai kekacauan, tetapi sebagai hasil dari sejarah kolonialisme. Atas dasar inilah, pengetahuan kemudian bergerak untuk melawan kolonialisme menuju solidaritas. Maka dari itu, saat pengetahuan sebagai emansipasi, ia berupaya untuk membantu kelompok yang mengalami dominasi untuk memahami posisinya dan membangun kekuatan kolektif. 

Bagi Boaventura de Sousa Santos, masalah modernitas saat ini adalah ketika pengetahuan sebagai regulasi justru terlalu mendominasi. Imbasnya, pengetahuan yang tidak hadir dalam bentuk yang formal, terukur, dan terlembagakan akan dianggap tidak sah dan tidak layak. 

Padahal, pengetahuan yang hadir dari pengalaman keseharian, relasi sosial, hingga celotehan humor juga punya nilai pengetahuan yang berharga.

Pengetahuan Buruh Sebagai Pengetahuan Emansipatoris 

Berangkat dari hal tersebut, saya kemudian berefleksi kembali pengalaman penelitian bersama buruh. 

Sebelum terlibat lebih jauh dengan mereka, pengetahuan perburuhan yang saya tahu lebih banyak hadir dalam bentuk regulasi, perjanjian internasional terkait ketenagakerjaan, hingga dokumen kebijakan lainnya. Pengetahuan ini hadir dalam ruang akademik maupun advokasi formal. Tentunya, pengetahuan ini penting, namun pengalaman bersama buruh mengajak saya untuk melihat bahwa pengetahuan formal tersebut bukan satu-satunya cara untuk memahami dunia perburuhan. 

Semakin sering berinteraksi dengan buruh di dunia daring maupun luring, saya perlahan paham bahwa pengetahuan buruh banyak muncul dari cerita hidup, pengalaman kerja, keluhan sehari-hari, hingga cara mereka membaca risiko dan membangun peluang dalam gerakan. 

Mereka mungkin tidak selalu memiliki otoritas akademik, gelar formal, atau sertifikasi yang diakui institusi bonafit. Akan tetapi, mereka punya pengetahuan strategis yang lahir dari pengalaman langsung terhadap relasi kuasa. Para buruh tahu, siapa yang perlu didekati, media atau jejaring mana yang bisa dirangkul, kapan harus berusaha, menunggu, dan membangun solidaritas tanpa memperbesar risiko bagi gerakan. 

Pengalaman saya bersama Anto, seorang pengurus serikat buruh, menjadi salah satu contoh dari dinamika tersebut. Komunikasi kami yang awalnya berlangsung secara kasual melalui WhatsApp kemudian berkembang menjadi pertemuan dengan jejaring serikat buruh perkebunan sawit Indonesia. Dalam proses tersebut, saya juga melihat bagaimana Anto memandang afiliasi kelembagaan yang saya miliki sebagai peluang untuk berkolaborasi dalam penulisan artikel populer dan menyebarluaskan cerita perjuangannya.  

Selain itu, ia juga dengan nada bercanda meminta saya menjadi perwakilan serikatnya di Jakarta sebab posisinya yang berada di Kalimantan Tengah membuat gerak Anto dan serikatnya terbatas di jejaring pergerakan. Dari sinilah saya melihat bahwa saya bukan sekadar sedang meneliti gerakan, tetapi juga digunakan oleh gerakan sebagai bagian dari infrastruktur solidaritas serikat buruh. 

Menariknya, dari Anto dan teman-teman buruh lainnya, saya juga sering mendapatkan informasi dari basis akar rumput sebelum isu tersebut muncul sebagai berita resmi di ruang publik. Misalnya ketika berita resmi soal kenaikan harga BBM non-industri per tanggal 18 April 2026 yang lalu, saya sudah dengar tentang informasi ini beberapa hari sebelumnya. 

Hal serupa juga terjadi sebelum momentum Hari Buruh 2026. Dari mereka, saya tahu bahwa aksi buruh terpecah di beberapa lokasi karena adanya perbedaan kepentingan dan orientasi gerakan. Dalam situasi itu, buruh memberikan pandangan mereka; aksi mana yang dianggap masih sejalan dengan tujuan awal Hari Buruh dan aksi mana yang perlu dibaca secara lebih hati-hati. 

Candaan, Meme, dan Politik yang Dibicarakan 

Pengetahuan tersebut tidak selalu dikemas dalam situasi yang serius. Buruh paham atas opresi dan ketimpangan struktural yang terjadi dalam keseharian, tetapi mereka sering mengemasnya dalam bahasa satir nan menggelitik. 

Grup Whatsapp kami kerap dipenuhi oleh visual foto, sticker, meme, dan candaan yang sekilas tampak ringan, tetapi berisikan kritik dan keluhan atas situasi yang mereka sedang hadapi.

Bentuk-bentuk komunikasi ini mengingatkan saya pada buku The Queer Art of Failure karangan Jack Halberstam, terutama pada bagaimana bentuk-bentuk visual yang dianggap tidak serius, aneh, atau gagal sekalipun dapat membuka kemungkinan untuk menyisipkan pesan dan keberadaan akan sesuatu yang lain. 

Dalam konteks buruh, humor bukan sebagai pelarian dari situasi politik, melainkan juga bagian dari politik itu sendiri. Terlebih dalam situasi politik yang semakin menunjukkan wajah oligarkis dan militeristik, diskusi lewat meme dan stiker menjadi medium untuk menyampaikan pesan yang lebih aman, murah, cepat, dan tidak selalu mudah dilacak. 

Dari sudut pandang pengetahuan sebagai regulasi, tentunya komunikasi ini dianggap tidak beraturan, namun bagi pengetahuan sebagai emansipasi, inilah cara bagaimana solidaritas dibangun. 

Melalui humor dan bahasa yang tidak selalu eksplisit, buruh membangun kode bersama yang menariknya, saya pun dapat dengan mudah memahami maksud dibalik visualisasi tersebut. Dengan kata lain, pengetahuan buruh memiliki kedekatan emosional yang bahkan orang di luar jejaring mereka bisa ikut merasakannya.

Ritme Kerja Institusi Bertemu Gerakan

Kerja saya sebagai peneliti yang berada di bawah institusi juga berbeda dengan teman-teman buruh yang bergerak dalam situasi yang jauh lebih rentan. 

Cara saya bekerja berada dalam sistem yang jauh lebih tertata; ada pembagian kerja dan jadwal yang jelas, target luaran, hingga perlindungan institusional membuat proses penelitian bisa lebih rapi dan terstruktur. 

Sementara itu, kerja pengetahuan di kalangan buruh sering kali berjalan dalam ritme yang berbeda. Ia tidak selalu hadir melalui pembagian kerja yang formal sebab upaya memproduksi pengetahuan di kalangan mereka justru dilakukan atas dasar kesadaran kolektif dan kebutuhan untuk merespon situasi. 

Perbedaan ini tentunya tidak bisa dibaca secara sederhana sebagai perbedaan ritme kerja rapi dan tidak. Apa yang tampak tidak tertata dari sudut pandang institusi justru bentuk dari kehati-hatian kelompok buruh dalam menghadapi risiko. 

Buruh tidak selalu bisa bergerak cepat, terbuka, atau terdokumentasi dengan rapi karena setiap derap langkahnya dapat membawa konsekuensi terhadap pekerjaan, keamanan, hingga keberlanjutan gerakan. Di bawah situasi politik saat ini, kehati-hatian menjadi bagian penting dari strategi gerakan. 

Saya menyadari bahwa penelitian bersama buruh tidak bisa dipaksakan mengikuti ritme institusi tempat saya bekerja. Peneliti seperti saya mungkin membutuhkan kejelasan agenda, target luaran, dan pembagian tugas. Namun, bagi buruh, yang lebih utama adalah menjaga kepercayaan, membaca situasi, dan melindungi temannya. 

Hal terakhir yang terpenting: penelitian bersama buruh menuntut pendekatan yang lebih sabar, cair, dan peka terhadap ritme kerja yang tidak selalu dapat diterjemahkan ke dalam logika administratif institusi formal. 

Mari Kita Tutup 

Cerita saya kali ini berangkat untuk berbagi bahwa pengetahuan buruh bukan sekadar pengetahuan alternatif di luar institusi formal. Lebih dari itu, pengetahuan bersama buruh membuka wawasan tentang pengetahuan sebagai emansipasi yang lahir dari pengalaman dominasi dan terus diproduksi melalui solidaritas. Ia hadir dalam cerita hidup dan keluhan sehari-hari. 

Pengetahuan buruh bukan hanya  soal menuntut hak, mereka juga menghasilkan dan menyebarkan pengetahuan mereka sendiri. Bagi saya, pengalaman ini menunjukkan bahwa penelitian bersama buruh tidak cukup menjadikan mereka sebagai objek kajian, melainkan juga subjek yang memproduksi pengetahuan tentang dunia yang mereka jalani. 

Bagi para peneliti, perlu diingat bahwa memahami pengetahuan buruh juga berarti menolak posisi peneliti sebagai pihak yang selalu paling tahu. Hubungan antara peneliti dan buruh adalah bagian dari relasi yang dapat dibaca hingga diarahkan oleh gerakan. Penelitian bisa menjadi titik temu antara pengetahuan institusional dan gerakan untuk saling memahami batas, risiko, dan solidaritas yang bisa dibangun bersama. 

Siapa pun bisa punya pengalaman, pemikiran, dan gagasan. Kirim dulu pikiranmu, overthinking belakangan. 

Bagikan
WhatsApp
X
Facebook
LinkedIn
Email
Print

Khusus buatmu