David dan Goliath: Kemenangan Mengejutkan Sang Penggembala Kecil
Religius ataupun tidak, kita mungkin pernah mendengar kisah pertarungan heroik dan legendaris antara sosok David dan Goliath.
Seperti dikisahkan dalam kitab Perjanjian Lama (1 Samuel 17), Goliath, seorang prajurit Filistin yang sangat kuat, tangguh, dan terlatih, menabuh genderang perang pada Kaum Israel (disebut sebagai Bani Israil dalam tradisi Islam, keturunan dari Nabi Ya’qub).
Sebagai seorang pemuda dan penggembala yang sama sekali tidak memiliki “skillset” dan “portofolio” sebagai prajurit, David—si nabi penggembala domba—menerima tantangan tersebut, dan memutuskan untuk menghadapi Goliath.
Kalau kita memakai asumsi umum untuk menafsirkan kisah itu, aman untuk menyimpulkan Goliath akan menang. Dalam menghadapi David, Goliath memakai tombak, perisai, dan pedang, jelas berbeda secara asimetris dengan David yang hanya menggunakan umban dan batu. Belum lagi kita bicara outfit zirah lengkap yang melindungi Goliath dari ujung kepala hingga kakinya.
Tapi inilah plot twist-nya.
Dengan pertolongan Tuhan, David berhasil merubuhkan tubuh raksasa Goliath, lalu ketika Goliath terhuyung-huyung ke tanah Lembah Elah (tempat duel berlangsung), David memenggal kepala Goliath.David resmi menjadi juaranya.

Dan sejak kemenangan David itu, kisah lama dari tradisi Abrahamik ini terus menjadi inspirasi orang beragama untuk berteguh pada janji Tuhan, bahwa Ia akan memenangkan siapapun yang disertai-Nya sebesar apapun rintangan menghadang. Lebih dari itu, kisah David dan Goliath telah berangkat jauh ke luar dari horizon religiusnya dan menembus ke dalam cara berpikir dan berbahasa masyarakat modern.
Istilah “David and Goliath” telah tercatat dalam Oxford Advanced American Dictionary sebagai idiom yang digunakan untuk mengungkapkan pertarungan antara “orang kecil” dengan kekuatan yang jauh lebih besar, apapun itu pertarungannya.
Begitulah besarnya pengaruh sebuah cerita Tuhan.
Amat indah, dan sarat nilai.
Kisah Yang Tidak Pernah Berakhir (dan Karakter Manusia yang Dibentuk Darinya)
Akan tetapi, kisah tetaplah kisah kan? Cerita Tuhan tetap—dan akan selalu—menjadi cerita-Nya kan?
Tidak juga.
Bagaimana kalau ternyata pertarungan antara David dan Goliath masih terjadi dalam bentuknya yang baru, yang lebih halus dan kejam? Bagaimana kalau sejatinya Goliath tidak pernah mati, dan selalu ada disana bersama prajurit-prajurit loyalnya?
Saya berargumen itulah yang terjadi di bawah ekonomi kapitalisme dengan spirit neoliberalistik yang menyertainya.
Kapitalisme yang telah lama dan akan selalu berorientasi pada akumulasi kapital telah menjadi Goliath yang seraya menjanjikan kepada David mungkinnya mencapai kesejahteraan dengan keringatnya sendiri justru terus-menerus memproduksi, melanggengkan, dan memperpanjang daftar kelahiran David-David baru.
Kebanyakan dari kita, kelompok miskin apalagi kelas menengah yang semakin terjepit dan berpotensi turun ke bawah nyatanya adalah seorang David, yang oleh kapitalisme dipaksa untuk terus bertarung di “Lembah Elah pasar kerja” untuk sekadar bisa makan, bertempat tinggal, membayar listrik, dan menabung dikala bisa, lalu kembali bertarung melawan Goliath dari jam 9 pagi-5 sore.
Dan kali ini, David bertarung tanpa jaminan perlindungan cerita Tuhan di belakangnya yang telah sejak awal “menolak paras atau perawakannya [Goliath] yang tinggi” (1 Samuel 16:7). Tidak ada jaminan kita akan “menang”. Selain itu, jika kita berkata “saya betul-betul buruk dalam berduel, sungguh”, tidak ada pilihan yang dimiliki selain tetap bertarung, atau hadapi kelaparan dan pembusukan martabat sebagai konsekuensi.
Dan di atas semua itu, pertarungan bertahan hidup yang kita jalani ini dibuat semakin tampak rasional dan seolah memiliki jalan keluar melalui industrialisasi satu prinsip penting: jika kita sebagai David kelelahan, berarti kita belum cukup kuat untuk bertarung, dan kita harus berusaha mengobati luka kita sendiri.
Di pinggir padang pasir, tersedia perban, obat penenang, stimulan, hingga segala rupa “pengembang diri” dan “mentor”, masing-masing berdiri disana untuk dikonsumsi agar kita bisa “bekerja lebih baik”. Kita pilih yang kita mau, bayar, lalu kembali masuk gelanggang, kalau bukan melakukan itu semua sembari tercekik di dalam arena.
Dari semua proses itu lahirlah dua tipe manusia dengan karakteristiknya yang khas.
Pertama, manusia “pseudo-produktif-hiper-individualis” (atau menurut psikoanalis Erich Fromm manusia “berorientasi pasar”). Mereka adalah orang yang meyakini bahwa satu-satunya bahasa yang berarti adalah bekerja, meniti karier, dan menghasilkan profit untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Mereka terputus dari hakikatnya sebagai mahluk sosial, kehilangan nurani kolektif, tidak merasa satu dengan alam, bahkan bersedia untuk “menginjak yang lain” selama itu memberi hasil bagi dirinya sendiri, selama bukan mereka yang kelaparan dan depresi.
Tipe manusia kedua adalah manusia yang—masih menurut Fromm—berkarakter “otomat”. Para otomat adalah produk dari apa yang umum dan dianggap wajar di lingkungannya. Mereka memercayai apa yang dipercayai kebanyakan orang.
Mereka berpikir selayaknya kebanyakan orang berpikir. Mereka menyalahkan dan memperbaiki dirinya sendiri sebagaimana kebanyakan orang menyalahkan dan memperbaiki dirinya sendiri. Mereka fokus pada dirinya sendiri seperti yang lain fokus pada dirinya sendiri.
Darimanapun kedua karakter manusia tersebut berasal, tidak ada dari mereka yang melihat, memperhatikan, apalagi mengubah, struktur yang mencengkeram mereka.
Dan sementara kesejahteraan semakin berubah menjadi mimpi dan semakin terkonsentrasi pada segelintir elite, kedua tipe manusia tersebut masih juga menyalahkan dirinya sendiri karena belum cukup “improve” dan “mindful”.
“Oh David, si Petarung yang Baik”
Dalam lanskap seperti itulah saya mengajukan klaim bahwa self-improvement yang tidak diiringi dengan kesadaran politik sesungguhnya membutakan kita, sebab:
Self-improvement tanpa kesadaran politik hanya mengarahkan fokus kita pada tujuan untuk menjadi “David si petarung yang baik”, tanpa pernah mendorong kita untuk bertanya: apakah pertarungan ini sungguh berpihak pada David yang lemah dan terpinggir sejak awal.
Pendeknya, ia membuat kita terbutakan dari realita bahwa tidak semua kemiskinan dan ketidakbahagiaan kita adalah sebab kegagalan usaha kita sendiri, ia juga bahkan secara kronis, disebabkan oleh sistem yang secara struktural cenderung memenangkan mereka yang berprivilese lebih. Dalam subjektivitas neoliberal, risiko semata dianggap sebagai tanggung jawab individu, dan bukan konsekuensi sistemik dari sistem yang gagal memanusiakan manusia.

Jika kita kembali ke definisi, apa sih memangnya definisi self-improvement itu? Menurut Cambridge Dictionary, self-improvement adalah “the activity of learning new things on your own that make you a more skilled or able person” “Kegiatan belajar secara mandiri untuk memperoleh pengetahuan atau keterampilan baru yang membuat seseorang menjadi lebih terampil dan mampu”.
Pertanyaan seriusnya, siapa yang mendefinisikan “skilled” dan “able” sejak awal? Apa indikator seseorang dapat dianggap “skilled” dan “able”? Apakah pengrajin topi itu “skilled” dan “able”? Bagaimana dengan pedagang keripik singkong? Buruh konveksi? Kurir ekspedisi? Seniman? Pengemudi ojek online?
Anda mungkin bisa ajarkan mereka untuk memiliki “grit” dalam usaha mereka, tetapi yang mereka khawatirkan sehari-hari bukanlah kegigihan, melainkan fakta bahwa kuatnya kapasitas grit mereka tidak sebanding dengan peningkatan kelayakan hidup.
Anda juga bisa ajarkan mereka “Let Them Theory”, jadi kalau ada keputusan eksternal yang merugikan mereka secara struktural, “Ya, let them, pak, fokus ke energi dan tujuan bapak, please be mindful”.
Boleh juga Anda ajarkan mereka prinsip “Tujuh kebiasaan orang yang sangat efektif” ala Stephen Covey dengan menjadi proaktif, memberi makan angsa sebelum mengharapkan “telur emas”nya, sekaligus menjaga keseimbangan antara “diri sendiri-keluarga-pekerjaan-dan Tuhan”.
Akan tetapi, selama masalah struktural tidak pernah disentuh, semua saran tersebut tetap akan menciptakan gejala psiko-ekonomi yang Karl Marx ceritakan secara tragedis pada abad 19:
“Semakin kurang dirimu dan semakin kurang kau mengekspresikan hidupmu, semakin banyak kau mempunyai dan semakin besar kehidupan terasingmu. Segala hal yang diambil pelaku ekonomi darimu dalam hal kehidupan dan kemanusiaan, ia kembalikan kepadamu dalam bentuk uang dan kekayaan.”
Tentu bukan maksud saya untuk menyatakan bahwa konsep-konsep tersebut dibuat sengaja untuk “membutakan” kita, tetapi jika tidak diiringi oleh kesadaran politis, maka muncullah fenomena yang disebut oleh Ronald Purser sebut sebagai “optimisme kejam”. Dikutip dari Johann Hari, Purser mendefinisikan optimisme kejam sebagai momen:
“Ketika Anda menghadapi masalah yang sangat besar dengan penyebab mendalam dalam budaya kita, dan anda menawarkan kepada orang-orang, dengan penuh semangat, solusi individu yang sederhana.”
Purser melanjutkan:
“Kedengarannya optimistis, karena Anda memberi tahu mereka masalahnya dapat diselesaikan segera. Tetapi, pada kenyataannya, ini kejam, karena solusi yang Anda tawarkan sangat terbatas, dan sangat mengabaikan penyebab yang lebih mendalam, sehingga bagi kebanyakan orang, solusi tersebut akan gagal.”
Apa yang digambarkan Purser sebagai optimisme kejam, persis menggambarkan apa yang terjadi jika self-improvement tidak berjalan bersama kesadaran politik, atau ketika Goliath berbisik pada David:
“Oh David, si Petarung yang Baik”
David Bertarung, Tapi Juga Berpolitik
David memang akan terus bertarung.
Tetapi, kini David mulai memikirkan tentang peraturan permainan. Ia mulai menempatkan dirinya bukan saja sebagai pribadi yang bekerja, tetapi juga sebagai manusia yang hidup bersama manusia lain, turut merasa derita mereka yang dianggap “yang lain”, dan agar mereka dapat hidup bermartabat, ia juga bertanggung jawab dengan kebijakan politik yang ada.
David memang tetap bertarung, tapi kini ia juga berpolitik. Ia berpolitik tidak dengan untuk mencari kursi, melainkan berasaskan kesadaran bahwa aturan permainan selalu dibuat oleh seseorang, dan selama aturan permainan dibuat oleh manusia, maka ia selalu bisa diubah.
Penutup: Memikirkan Definisi Alternatif Self-Improvement
Mungkinkah kita membayangkan sebuah self-improvement yang mengandaikan politik sebagai kualitas primer? Mungkin, asalkan kata “self” diganti dengan “human”.
Istilah yang bergeser akan mengubah makna. Ketika kita menyebut human-improvement, kita memberi bobot etis dan eksistensial pada kata improvement, bahwa skill dan ability seorang manusia tidak jadi sekadar perkara individual, tapi juga menjadi perkara kolektif untuk mengubah kebijakan yang berdampak buruk pada manusia dan lingkungan.
Human improvement akan menumbuhkan kesadaran bahwa kita tidak hidup sendiri, melainkan berbagi ruang dan kasih satu sama lain, di tengah dunia yang sementara.
Sebab tidak ada mindfulness yang bernilai ketika ia menumpulkan nurani di hadapan penderitaan. Tidak ada stoisisme yang berarti jika bayarannya adalah diam terhadap struktur yang menjebak.
Sumber foto: Magnific.com


